Ini Ajah…

IMG-20181224-WA0026Ini Ajah… Penggalan kata sederhana yang bermakna luar biasa.

Simple iya, berkelas itu pasti

Bagi sebagian orang, kata ini tidak berarti apa2. Begitu juga tidak ada jawaban yang memuaskan dari Kamus beribu halaman dan mesin pencari andalan.

Ini Ajah… Lebih sering diucapkan atas jawaban saat harus memilih. Ini Ajah… adalah pilihan yang terbaik dengan bungkusan kualitasnya.

Ini Ajah versi saya adalah, bentuk rasa syukur atas apa yang sudah di dapat dan dinikmati dari ‘Sang Sutradara’.

‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’

#Ini Ajah… Alhamdulillah

Bismillah untuk 2019





Iklan

Cinta yang tak terbeli

Yah, Vito makan ya.. sembari tangannya ‘mencomot’ pinggiran Pizza yang dari awal sengaja tidak aku makan. Ya, untuk menikmati suapan penutup yang sempurna itu sudah berpindah pemilik.

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Karena Vito memang tak ‘terkalahkan’. 😍

Bukan kali ini saja, jagoan ku melakukan hal itu.. kulit ayam dan kuning telur adalah sedikit dari ‘komunitas’ tersebut.

Pikiranku mundur kebelakang. Ya ampun, aku sering melakukannya kepada ibu ku. Soda untuk campuran adonan kue harus berkurang akibat ‘rengek’an’ ku saat itu. Kuning telur mata sapi sebagai suapan terakhirnya, tak luput dari konspirasi tangan dan mulutku.

Apa yang ibuku rasakan saat itu, mungkin sama dengan apa yg aku rasakan kini. Senyum kecut, menutup kenangan masa dimana TVRI masih berjaya itu.

Orang tua, dengan segala kekurangannya, adalah jabatan yang memiliki job desk mulia. Yang terbaik untuk anak-anaknya ialah cita-cita yang akan terus di junjung sampai tak ada kata yang bisa terucap lagi.

Cinta yang tak akan memudar dan tak akan tergerus oleh waktu. Rasa sayang di frekwensi berbeda tidak dapat terganti oleh manusia lain di dunia. Pikiran, otot, peluh, dan mungkin darah, ikhlas di peras hanya untuk Sang penerus yakin, bahwa semua baik-baik saja.

Nak, tidak harus menjadi orang tua untuk paham seberapa besar Cinta ini. Tidak harus menjadi ‘Super Hero’ untuk tau apa yang kami perjuangkan untuk membuatmu merasa aman dan nyaman.

Rasakan, nikmati serta syukuri itu, karena cinta kami tak terbeli…

Ini Ajah…

Black is Bukan Merah (Kalender)

Kembang api sudah pancarkan sinarnya dan menjadi debu, terompet berbagai bentuk telah tidak mengeluarkan suaranya lagi. Tahun telah berganti angka.

Sale 50% – 80% terpampang besar di Mall dan baleho untuk menarik para pemangsa Haga miring. Tahun baru, dengan barang-barang serba baru masih menjadi darah dan daging masih dipegang teguh, meski bukan hanya si teguh yg di pegang atau di gandeng. Ada Riko, ada Sarip, ada Om Aldi, Mas Jimi dan bapak bapak tua berkacamata yang tidak mau menyebutkan namanya.

Ya, tahun telah baru. Seribu harapan di doakan. Sejuta harapan di semogakan. Semua mimpi di Aminkan. Babi tanah jadi simbol di tahun politik bagi tanah yg di pijak ini.

2019 bagi sebagian orang mungkin di nantikan, selebihnya mah biasa aja.

Bagi penjual musiman terompet dan kalender, akhir Desember adalah hal yang pasti di tunggu. Karena malam tahun baru lah dagangan mereka bisa dijadikan sarana pengeruk laba yang sedikit besar.

Pedagang terompet hanya ‘mengorbit’ H-2 sampai waktu menunjukkan 00.00 , setelah itu barang sudah menjadi terompet second yang tidak akan laku dijual meski di toko online sekalipun. Bahkan dengan harga miring yang cendrung ‘nyungsep’. Dipastikan ‘penggandeng’ si teguh ga akan tergoda.

Beda hal dengan penjual kalender, almanak atau tanggalan. Durasi tayang akan sedikit lebih lama dan panjaaang. Meski mereka juga tidak akan bisa jual barang second.

Perempatan dengan lampu merah yg berdetak minimal 60 detik adalah ‘sarang’ dimana mereka menjajakan kumpulan angka yang hanya berwarna merah dan hitam itu.

Kalender benda yang akan kita perhatikan dengan teliti saat awal membeli. Jaman belum ada smart phone dan sosmed, beberapa angka dilingkari untuk mengingatkan hari hari penting seperti ulang tahun keluarga dan pacar (supaya di bilang romantis karena ingat tanggal ultahnya dan punya waktu mikirin beli kado)

Kalender 10 – 20 tahun yang lalu mungkin sedikit ‘berwarna’ dengan tampilan model berpakaian tampak lengan. Kadang berharap Januari dan Februari segera berakhir hanya untuk melihat bintang favorit di bulan Maret. Hmmm.. masih kebayang lengannya.

Saat ini seiring berjalannya usia, hal yang paling mengasyikan adalah melihat tanggal merah di tiap bulannya. Apakah ada harpitnas, cuti bersama atau libur berjamaah?? Cuti atau bolos kerja sudah di setting jauh jauh hari untuk memastikan tabungan cukup untuk beli kado.. upps, itu dulu, sekarang mah untuk anak dan istri aja.

Kalender dengan tehnik cetakan, entah sampai kapan bisa bertahan serta bersaing dengan tekhnologi digital. Dan hilanglah pemandangan di lampu merah, Corat coret tanggal dan adrenalin untuk mencintai angka dengan warna merah.

Hmmm.. berharap lengan itu tetap ada, eh..