Black is Bukan Merah (Kalender)

Kembang api sudah pancarkan sinarnya dan menjadi debu, terompet berbagai bentuk telah tidak mengeluarkan suaranya lagi. Tahun telah berganti angka.

Sale 50% – 80% terpampang besar di Mall dan baleho untuk menarik para pemangsa Haga miring. Tahun baru, dengan barang-barang serba baru masih menjadi darah dan daging masih dipegang teguh, meski bukan hanya si teguh yg di pegang atau di gandeng. Ada Riko, ada Sarip, ada Om Aldi, Mas Jimi dan bapak bapak tua berkacamata yang tidak mau menyebutkan namanya.

Ya, tahun telah baru. Seribu harapan di doakan. Sejuta harapan di semogakan. Semua mimpi di Aminkan. Babi tanah jadi simbol di tahun politik bagi tanah yg di pijak ini.

2019 bagi sebagian orang mungkin di nantikan, selebihnya mah biasa aja.

Bagi penjual musiman terompet dan kalender, akhir Desember adalah hal yang pasti di tunggu. Karena malam tahun baru lah dagangan mereka bisa dijadikan sarana pengeruk laba yang sedikit besar.

Pedagang terompet hanya ‘mengorbit’ H-2 sampai waktu menunjukkan 00.00 , setelah itu barang sudah menjadi terompet second yang tidak akan laku dijual meski di toko online sekalipun. Bahkan dengan harga miring yang cendrung ‘nyungsep’. Dipastikan ‘penggandeng’ si teguh ga akan tergoda.

Beda hal dengan penjual kalender, almanak atau tanggalan. Durasi tayang akan sedikit lebih lama dan panjaaang. Meski mereka juga tidak akan bisa jual barang second.

Perempatan dengan lampu merah yg berdetak minimal 60 detik adalah ‘sarang’ dimana mereka menjajakan kumpulan angka yang hanya berwarna merah dan hitam itu.

Kalender benda yang akan kita perhatikan dengan teliti saat awal membeli. Jaman belum ada smart phone dan sosmed, beberapa angka dilingkari untuk mengingatkan hari hari penting seperti ulang tahun keluarga dan pacar (supaya di bilang romantis karena ingat tanggal ultahnya dan punya waktu mikirin beli kado)

Kalender 10 – 20 tahun yang lalu mungkin sedikit ‘berwarna’ dengan tampilan model berpakaian tampak lengan. Kadang berharap Januari dan Februari segera berakhir hanya untuk melihat bintang favorit di bulan Maret. Hmmm.. masih kebayang lengannya.

Saat ini seiring berjalannya usia, hal yang paling mengasyikan adalah melihat tanggal merah di tiap bulannya. Apakah ada harpitnas, cuti bersama atau libur berjamaah?? Cuti atau bolos kerja sudah di setting jauh jauh hari untuk memastikan tabungan cukup untuk beli kado.. upps, itu dulu, sekarang mah untuk anak dan istri aja.

Kalender dengan tehnik cetakan, entah sampai kapan bisa bertahan serta bersaing dengan tekhnologi digital. Dan hilanglah pemandangan di lampu merah, Corat coret tanggal dan adrenalin untuk mencintai angka dengan warna merah.

Hmmm.. berharap lengan itu tetap ada, eh..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s