Cinta yang tak terbeli

Yah, Vito makan ya.. sembari tangannya ‘mencomot’ pinggiran Pizza yang dari awal sengaja tidak aku makan. Ya, untuk menikmati suapan penutup yang sempurna itu sudah berpindah pemilik.

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Karena Vito memang tak ‘terkalahkan’. 😍

Bukan kali ini saja, jagoan ku melakukan hal itu.. kulit ayam dan kuning telur adalah sedikit dari ‘komunitas’ tersebut.

Pikiranku mundur kebelakang. Ya ampun, aku sering melakukannya kepada ibu ku. Soda untuk campuran adonan kue harus berkurang akibat ‘rengek’an’ ku saat itu. Kuning telur mata sapi sebagai suapan terakhirnya, tak luput dari konspirasi tangan dan mulutku.

Apa yang ibuku rasakan saat itu, mungkin sama dengan apa yg aku rasakan kini. Senyum kecut, menutup kenangan masa dimana TVRI masih berjaya itu.

Orang tua, dengan segala kekurangannya, adalah jabatan yang memiliki job desk mulia. Yang terbaik untuk anak-anaknya ialah cita-cita yang akan terus di junjung sampai tak ada kata yang bisa terucap lagi.

Cinta yang tak akan memudar dan tak akan tergerus oleh waktu. Rasa sayang di frekwensi berbeda tidak dapat terganti oleh manusia lain di dunia. Pikiran, otot, peluh, dan mungkin darah, ikhlas di peras hanya untuk Sang penerus yakin, bahwa semua baik-baik saja.

Nak, tidak harus menjadi orang tua untuk paham seberapa besar Cinta ini. Tidak harus menjadi ‘Super Hero’ untuk tau apa yang kami perjuangkan untuk membuatmu merasa aman dan nyaman.

Rasakan, nikmati serta syukuri itu, karena cinta kami tak terbeli…

Ini Ajah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s